BUKAN HANYA SEREMONIAL: SMK PGRI 1 TANGERANG HIDUPKAN KARTINI LEWAT ARENA LOMBA DAN PIKIRAN KRITIS

SMEGIONE – Mengingat kembali 147 tahun silam dimana seorang perempuan dari Jepara lahir. Ia adalah sebuah anomali pada saat itu dimana perempuan hanyalah pengurus rumah tangga dan patuh pada suaminya, namun ia menolak. Ia ingin memperjuangkan hak – hak wanita agar terdapat kesetaraan dengan pria. Kini SMK PGRI 1 Tangerang bukan hanya meletakan bunga di atas sejarah. Pada peringatan Hari Kartini (Selasa, 21 April) sekolah ini mengubah euforia menjadi arena lomba debat, cerdas cermat, dan mikir kids sebagai bukti merayakan Hari Kartini bukan tentang kebaya, melainkan pemikiran kritis yang berani untuk diasah. Para siswa berkompetisi dengan seksama. Riuh ricuh para penonton ikut meramaikan

Pagi itu, sebelum perlombaan dimulai, semua warga SMK PGRI 1 Tangerang berdiri dengan Rapi dalam apel memperingati Hari Kartini. Ini bukan hanya sekadar formalitas melainkan waktu sejenak untuk merenungkan bahwa perjuangan itu nyata, dan warisan itu sulit untuk diabaikan.

Setelah apel, Mikir Kids memulai babak kompetisi. Tampilan yang sederhana, tetapi sangat menantang pikiran lomba puzzle untuk keluar dari tali ini membuat setiap peserta berpikir kreatif, berkoordinasi, dan saling percaya pada anggota timnya. Tawa dan rasa frustrasi bercampur sekaligus. Ini menandakan mereka bukan sekedar merayakan tapi juga memahami

Dalam sejenak, panggung dipenuhi dengan keindahan. Penampilan tarian tradisional muncul sebagai pengingat bahwa identitas dan intelektualitas tidak saling menghilangkan keduanya bisa berkembang bersama, indah dan kuat.

Suasana kembali tegang saat lomba cerdas cermat dimulai. Pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan dan perjuangan Kartini diajukan, dan para peserta menjawab dengan cepat dan tepat menunjukkan bahwa mereka tidak hanya merayakan mereka juga mengerti.

Lomba debat menjadi sorotan utama. Argumen demi argumen dilontarkan masing – masing tim dengan percaya diri. Bukan sekedar bicara, tapi berpikir di depan orang banyak, dari siswa hingga kepala sekolah ikut menonton. Lomba ini menunjukan sebuah  keberanian yang tanpa disadari  adalah cerminan paling jujur dari masa perjuangan kartini.

Semangat itu rupanya tidak berhenti di panggung lomba. Awa dan Ara, siswa kelas XI MPLB (Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis) 1, yang turut berpartisipasi dalam rangkaian acara hari ini, mengungkapkan bahwa sosok Kartini bukan sekadar nama dalam buku sejarah  “dari cara dan tekad besarnya dalam memperjuangkan kesetaraan gender begitu menginspirasi kami” ujar mereka. Sebuah kalimat sederhana tapi cukup untuk membuktikan bahwa warisan itu masih hidup, berdenyut, dan relevan di generasi ini. Menutup hari yang padat itu, Band Smegione mengalunkan nada-nada yang memenuhi aula hangat, meriah, dan penuh energi. Dilanjutkan dengan penampilan tim Modern Dance yang membawa gerakan-gerakan dinamis sebagai penutup yang sempurna.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *