Ujian Tengah Seméster Rasa UNBK

“Ada yang berbéda dalam sistem pelaksanaan Ujian Tengah Seméster (UTS) tahun pelajaran 2017/2018 di sekolah SMK PGRI 1 Kota Tangerang. Pasalnya, tahun ini sekolah tersebut menerapkan sistem ujian berbasis komputer,” begitu berita yang dimuat oléh Koran Satelit News hari Kamis, 12 Oktober 2017, halaman 3. Sebenarnya, sejak tahun 2012 pun SMK PGRI 1 Tangerang sudah memakai LMS (Learning Management System), tapi hanya dilakukan oléh beberapa guru. Systemnya pun berbéda-béda. Ada guru yang memakai Moodle di web hosting pribadinya, ada yang memakai Edmodo, dan ada juga yang memakai Quipper School. Baru di tahun 2017 inilah, sistem yang digunakan seragam yaitu Moodle, diikuti seluruh siswa dan seluruh guru, untuk seluruh mata pelajaran dari semua tingkat (kelas 10, 11, dan 12) dan semua jurusan (Akuntansi, Administrasi Perkantoran, Pemasaran, Multimédia, serta Téknik Komputer dan Jaringan).

Penggunaan sistem ini tak lepas dari program yang sedang dicanangkan yaitu “Goes to Cyber School and Smart School”.

Bapak Aep Gumiwa, Kepala SMK PGRI 1 Tangerang menerangkan, salah satu alasan dirinya menerapkan sistem pembelajaran menggunakan IT  yaitu karena mengikuti hadits Rasulullah SAW, di mana hadits tersebut mengatakan, “Ajarkan anakmu sesuai dengan zamannya. Anakmu akan hidup di zamannya dan bukan di zamanmu.”

“Saat ini orang hidup tanpa IT itu tidak bisa. Oléh karena itu, kita persiapkan anak-anak hidup dengan zamannya. Ini adalah prosés pembiasaan, prosés penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis IT. Dengan demikian, setiap perubahan yang terjadi, anak-anak bisa menyesuaikan,” tambah bapak Aep.

Persiapan yang dilakukan meliputi pemasangan infra struktur jaringan komputer, memindahkan sérver dari VPS di luar negeri ke sérver milik sendiri di dalam sekolah, pelatihan terhadap semua guru, sosialisasi penggunaan aplikasi kepada seluruh siswa, dan layanan instalasi di tiap laptop siswa yang dibantu oléh guru-guru komputer dan siswa-siswi MM serta TKJ.

SISTEM MIRIP UNBK

Untuk bisa mengikuti ujian ini, siswa harus memasang aplikasi khusus di laptopnya yang bila dijalankan membuat siswa tidak bisa membuka aplikasi lain, dan tidak bisa berpindah antar aplikasi menggunakan tombol Alt+Tab. Mirip seperti aplikasi yang digunakan di UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer), yaitu komputer yang dipakai siswa terkunci hanya untuk 1 aplikasi. Bédanya, bila di UNBK hanya dipasang di ruang prakték komputer dengan satu sérver bersistem operasi Windows Server melayani 30-40 komputer PC melalui jaringan kabel, sedangkan ujian ini dilakukan dari seluruh kelas, melalui jaringan nirkabel (wireless), dan satu sérver bersistem operasi Linux harus mampu melayani ribuan laptop bersistem operasi Windows dan Mac OS. Tentu saja ini lebih rumit untuk diwujudkan.

Data statistik partisipan Ujian Tengah Seméster Berbasis Komputer.

Jumlah siswa = 1152 orang.
Jumlah guru = 69 orang.
Jumlah kelas = 31 kelas.
Jumlah ruang kelas = 21 ruang.
Jumlah mata pelajaran = 95 pelajaran.
Lama pelaksanaan = 9 hari (9-18 Oktober 2017).

Server = 1 unit server mérek Dell PowerEdge T30.
Prosésor = Intel Xeon E3.
RAM = 16 GB.
Sistem operasi = Linux Ubuntu Server 16.04.3 LTE.
Akses ke internet = 100 Mbps (Indihome) + 25 Mbps (Biznet).
Jumlah wifi = 21 unit (1 wifi untuk tiap ruang kelas).
Komputer siswa = Laptop bersistem operasi Windows atau Mac OS.

Sérver sengaja dipindah dari VPS di luar negeri ke jaringan lokal di sekolah agar siswa bisa lebih lancar mengaksés sérver. Walau pun sérver berada di lokal, tapi dipasangi aksés ke internét agar bapak/ibu guru tetap bisa membuat soal dan mengunduh nilai hasil ujian dari rumahnya masing-masing.

About The Author

Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.